PEMBUATAN KOMPOS DARI BAHAN PUPUK KANDANG DAN SISA PAKAN SAPI YANG TIDAK TERMAKAN SERTA RUMPUT


PEMBUATAN KOMPOS DARI BAHAN PUPUK KANDANG DAN SISA PAKAN SAPI YANG TIDAK TERMAKAN SERTA RUMPUT


Pengomposan adalah proses pembusukan secara alami atau dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi yang terkendali. Bahan organik seperti sisa tanaman, limbah peternakan, sisa makanan, limbah kota (limbah rumah tangga dan pasar) dan limbah industri tertentu, dapat dikomposkan secara biologis menjadi bahan organik yang lebih stabil yang disebut kompos.



Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembuatan kompos dan rentang yang dapat diterima
Parameter
Rentang yang dapat di terima
-       Suhu
-       Rasio Nitrogen terhadap Karbon
-       Aerasi, kandungan oksigen
-       Kelembaban
-       pH
54 - ° 60 C
25:1 – 30:1

Ø  5%
50 – 60 %
6,5 – 7,5

Tahapan Pembuatan Kompos
1.      Persiapan bahan
Bahan hijauan, bahan yang berwarna hijau, biasanya banyak mengandung Nitrogen (N) tinggi, diantaranya kotoran ternak (sapi, kerbau, ayam, kambing atau babi), daun kacang – kacangan, daun jagung, limbah pertanian segar, serasah daun dan potongan rumput. 




Gambar 5. Bahan dasar kompos hijauan serasah daun dan potongan rumput



1.      Persiapan Alat

Peralatan yang dibutuhkan antara lain:
1.      Cangkul, sekop dan pengki plastik.
2.      Aktivator pengomposan
3.      Plastik penutup
4.      Tali rafia


2.      Penyusunan bahan baku
Susun kompos berdasarkan ketersediaan bahan baku. Sebaiknya bahan yang mengandung karbon tinggi terlebih dahulu disimpan paling bawah sebagai alas. Misalnya jerami dan sisa pakan sapi.
Pada lapisan selanjutnya adalah kotoran sapi, aktivator. Susunan bahan baku yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut :
a.    Rumput/sisa pakan sapi (paling bawah)
b.    Kotoran sapi
c.    Aktivator
Proses penyusunan bahan kompos ini dapat dilakukan sampai ketinggian 1 m.

3.      Mencampur Kompos
Setelah bahan  dicampur rata dengan kelembaban yang cukup dan lengkap dengan bahan aktivator, lalu ditumpuk kembali seperti semula, sampai ketinggian 1 m, membentuk bedengan memanjang. Lebar maksimum 2 m dan panjang 5 m. Bentuk bedengan bisa dibuat fleksibel tergantung kondisi di lapangan.


1.      Mengukur Temperatur

Pengukuran temperatur dilakukan setiap hari pada beberapa titik kemudian dicatat. Hasil pemetaan pengukuran dapat memberikan indikasi tentang proses dekomposisi, apakah pencampuran sudah baik dan benar, apakah komposisi seimbang, dan apakah kelembaban sudah cukup.


2.      Membalik Kompos
Proses pembalikan kompos dilakukan pada hari ke-10, amati kelembaban, campuran bahan dan siklus oksigennya. Apabila kurang lembab, atau campuran kurang rata, maka pada saat membalik kompos harus dibarengi dengan pencampuran ulang dengan kompos dari tempat yang mempunyai temperatur tinggi, yang mempunyai kelembaban atau campuran atau siklus oksigen yang baik.
Pembalikan kompos selain dengan menggunakan peta temperatur, juga harus dilakukan dengan cara :
·           Membalik, mencampur dan menyimpan tumpukan di atas ke bawah
·           Membalik, mencampur dan menyimpan tumpukan tengah ke luar, kiri dan kanan
·           Membalik, mencampur dan menyimpan tumpukan samping, kiri dan kanan ke tengah
·           Membalik, mencampur dan menyusun tumpukan tengah bawah ke atas

Apabila proses pembalikan sudah dilakukan sebanyak 2 kali, amati perubahan warna, aroma dan temperatur. Apabila warnanya sudah berubah menjadi coklat kehitaman, kemudian aroma kompos menyerupai aroma tanah, maka proses komposting sudah selesai.

DAFTAR PUSTAKA
Lardinois, I., and Van De Klundert, A., 1993, Organic Waste: Option for small-Scale Resource Recovery Urban Solid Waste, Technology Transfer for Development, Amsterdam. Netherlands.
McGarry, M.G., and Stainforth, J., (eds),1978,  Compost, Fertilizer, and Biogas Production From Human and Farm Wastes in The Republic of China, IDRC-TS 8e
Raabe, R.D. 2001. The rapid composting method. University of California, US, Co-operative Extension, Division of Agriculture and Natural Resources.
Richard, T. 1996. The effect of lignin on biodegradability. In: Cornell composting. (available at http://www.cfe.cornell.edu/compost/calc/lignin.html
Ruhimat, R. 2014. Modul Pelatihan:  Pengolahan Kompos organik di Kebun Raya. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya. LIPI. 21 hal.
Susetya, D. Panduan Lengkap Membuat Pupuk Organik, untuk Tanaman Pertanian dan Perkebunan. Pustaka Baru Press. 193 hal.
 

Diberdayakan oleh Blogger.